Werkudoro
Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh. ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Harjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa, tinggi besar, dengan suara menggelegar. Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah. Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.
FilosofiWerkudoro atau bima digambarkan dengan tubuh besar layaknya raksasa, wajahnya garang tapi menunduk santun seperti sedang sembahyang. Dalam kisah Pandawa Lima, Werkudara diibaratkan sebuah jari telunjuk.Perawakannya besar, hatinya lurus seperti sebuah jari telunjuk yang keras dalam menunjuk sesuatu.
Seperti yang biasa terjadi di masyarakat saat sedang marah maka akan menggunakan jari telunjuk mengacung dan menunjuk kesalahan orang lain.
Jika sedang mengerjakan sesuatu, Wekudara tidak ingin terganggu hingga benar-benar selesai. Hal tersebut adalah sebuah teladan bahwa seseorang yang sembahyang tidak boleh diganggu.
Werkudara juga punya kekuatan yang diberi nama Aji Pancanaka yang artinya lima kekuatan. Lima kekuatan tersebut juga digunakan sebagai sarana dakwah ulama zaman dulu untuk mendirikan salat lima waktu.