Berusaha Menjadi Bermanfa'at Sekalipun Tidak Manfa'at

Rabu, 24 Desember 2025

RIP SILA KE-LIMA


Di batu nisan tak bernama itu, terukir kalimat yang kian sering kita baca dengan mata letih: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hari ini, ia seolah wafat—bukan karena usia, melainkan karena diabaikan.
Di sebuah desa, seorang nenek membungkuk memanggul kayu bakar. Tangannya gemetar, punggungnya renta. Kayu itu bukan hasil jarahan, hanya sisa-sisa ranting yang tertinggal di tanah. Ia ambil untuk menanak nasi, untuk menunda lapar. Namun negara datang dengan suara keras dan langkah tegas. Aturan dibacakan, pasal ditunjukkan. Nenek itu dijadikan pelajaran: hukum harus ditegakkan.

Sementara itu, jauh di SumatraAceh dan sekitarnya—hutan dirundung luka. Pohon-pohon tumbang bukan oleh usia, melainkan oleh mesin dan keserakahan. Sungai meluap, tanah runtuh, rumah tenggelam. Air datang membawa murka yang tak murni alam. Namun negara memilih diam. Peristiwa itu disebut “musibah biasa”, seakan hujan semata yang bersalah, seakan akar-akar yang tercerabut tidak pernah berteriak.

Di sinilah ironi berdiri telanjang. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kayu bakar di punggung nenek dianggap ancaman, tetapi truk-truk kayu yang merampas hutan melaju tanpa sirene. Air mata korban banjir mengalir bersama lumpur, tapi status bencana nasional tak kunjung disematkan—seolah pengakuan itu terlalu mahal, seolah kebenaran bisa ditawar.

Sila kelima bukan sekadar kalimat di dinding kelas. Ia janji. Ia kompas. Namun apa arti janji bila yang lemah dihukum dan yang kuat dilindungi oleh sunyi? Apa arti keadilan bila ukuran salah dan benar ditentukan oleh kuasa?

Maka hari ini, kita menunduk sejenak. Bukan untuk meratapi kata-kata, melainkan untuk mengingat makna.
Jika keadilan hanya berani pada nenek pemanggul kayu, tapi bisu pada penebang hutan, maka benarlah prasasti itu:
Semoga suatu hari, ia hidup kembali—bukan di pidato, melainkan di tindakan.
Share:

RIP SILA KE-LIMA

RIP SILA KELIMA Di batu nisan tak bernama itu, terukir kalimat yang kian sering kita baca dengan mata letih: Keadilan Sosial bagi Seluruh Ra...

Biografi

Muhammad Achlis Fuadik lahir pada 27 September 1997 di Trenggalek Jawa Timur. Ia bukan tokoh terkenal, hanya seorang anak pelosok kota dengan sejuta harapan serta cita-cita yang jalannya masih penuh tanjakan dan tikungan tajam. Meski hidup sederhana, ia dikenal sebagai pribadi yang baik hati -walau belum bisa dibilang dermawan, sebab kondisi ekonominya sendiri masih naik turun seperti imannya. Sejak kecil beliau tumbuh dengan bakat alami dalam hal memimpikan banyak hal, meskipun sebagian mimpinya masih menunggu realisasi karena masalah klasik : waktu, tenaga, dan tentu saja isi dompet. Namun begitu, ia tetap melangkah pelan-pelan, berpegang pada prinsip bahwa orang sukses pun dulunya pernah kere dan bingung harus mulai dari mana. Dalam kesehariannya, ia sering menghibur diri dengan keyakinan bahwa keberhasilan itu bukan soal cepat atau lambat, tetapi soal terus bergerak meski sambil ngos-ngosan. Teman-temannya mengenalnya sebagai sosok yang mudah diajak bercanda, kadang terlalu santai, tapi tetap punya tekad yang keras meski tidak selalu terlihat di permukaan. Beliau terus berusha memperbaiki hidupnya satu hari demi satu hari, berharap suatu saat bisa mencapai impian-impiannya -bahkan jika harus melewati berbagai rintangan, mulai dari kenyataan hidup sampai masalah sederhana seperti malas bangun pagi. Ia percaya bahwa selama masih punya kemauan, sedikit keberuntungan, dan kopi yang cukup, masa depan tetap punya peluang untuk bersinar.

Visi

Menjadi manusia sederhana yang sukses luar biasa, bukan karena keturunan atau keajaiban, tapi karena terus maju walau sering ngos-ngosan dan kadang ketiduran.

Misi

1. Mengumpulkan keberanian dan kopi secukupnya untuk menghadapi tanjakan hidup, tikungan tajam, dan ngantuk yang sering menyerang tanpa permisi. 2. Merealisasikan mimpi satu persatu, dimulai dari yang paling mungkin dulu -misalnya bangun pagi tanpa harus menunda alarm 7 kali. 3. Menjaga hati tetap baik, meski isi dompet kadang belum mendukung. 4. Mengembangkan bakat alami dalam bermimpi , sembari berusaha keras agar mimpi-mimpi itu tidak hanya menjadi lagu pengantar tidur. 5. Berharap pada keberuntungan, tapi tetap bekerja keras karena keberuntungan jarang datang kepada orang yang cuma rebahan.

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengantar

Foto saya
Assalamua'alaikum wr.wb. Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat membuat blog ini sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman. Blog ini lahir dari keinginan saya untuk memberikan manfaat bagi para pembaca melalui tulisan-tulisan yang informatif, inspiratif, dan mudah dipahami. Saya juga berkomitmen untuk terus belajar, menulis, dan menyajikan konten yang relevan serta berkualitas. Semoga blog ini dapat menjadi tempat yang bermanfaat dan menyenangkan untuk dikunjungi. Wassalamualaikum wr.wb

Cari Blog Ini

Popular Posts